JUALAN DISOSMED? IKUTI 6 LANGKAH BERIKUT

Dijaman sekarang sosial media atau biasa disingkat sosmed menjadi sangat penting bagi semua orang, kenapa? kerena banyak sekali hal positif yang diperoleh melalui sosial media, seperti berkomunikasi dengan teman lama yang jauh, bertukar informasi tentang kejadian yang terjadi disekitar kita, berbagi ilmu pengetahuan dan informasi dan masih banyak lagi manfaat yang bisa digunakan disosmed.

Sosmed selain mempunyai manfaat yang positif, sosmed juga mempunyai dampak yang negatif, dan cukup banyak dampak negatif yang ditimbulkan melalui sosmed, misalnya ketika berkumpul dengan teman-teman secara langsung, masing-masing dari kita sibuk dengan sosmednya masing-masing yang membuat obrolan-obrolan dalam pertemuan tersebut menjadi terganggu karena sosmed. Selain itu, betapa banyak berita-berita yang tidak benar yang sengaja disebarkan disosmed alias Hoaks yang membuat kita menjadi terganggu karena berita tersebut.

Sosmed pada dasarnya adalah sebuah media untuk kita sebagai manusia bersosialisasi, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan lawan bicara. Untuk menjangkau atau memudahkan interaksi dengan orang lain yang jaraknya jauh, maka seiring berkembang jaman dengan adanya jaringan internet, maka dibuatlah sosmed. Akan tetapi seiirng berkembang jaman, sosmed yang dulunya hanya berupa fitur chat dua arah, berkembang menjadi grup, kemudian semakin berkembang dijaman sekarang dengan berbagai macam jenis platform.

sosmed
Facebook dan Twitter 2 akun sosial media hits

Platform sosmed juga mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan manusia saat ini, misalnya beberapa contoh platform sosmed adalah whatsapp, telegram, facebook, instagram, twitter dan lain-lain. Dimana semua platform tersebut mempunyai fungsi dan peran yang berbeda satu sama lain. Mungkin banyak yang mengatakan bahwa jenis sosmed A lebih baik dari B, jenis sosmed B lebih baik dari A atau bahkan ada yang memiliki semuanya dengan tujuan agar merasakan manfaat dari semua jenis sosmed yang ada, atau mungkin hanya ingin tahu, atau bisa juga untuk gaya.

Kebutuhan manusia akan platform digital dalam bentuk sosmed, menjadikan kita harus paham kaidah-kaidah atau aturan-aturan dalam bersosial media, tidak bisa kita sembarangan kita menghina orang lain disosmed, karena sosmed ini akan dibaca oleh banyak orang dan hal tersebut kurang baik, atau menyebarkan aib seseorang juga adalah yang kurang baik. Bahkan sekarang sudah ada Undang-undang yang mengatur seseorang dalam bersosial media.

Terlepas dari tujuan awal diciptakannya media bersosialisasi dalam bentuk digital. Sosmed sekarang ini juga menjadi sarana jual beli baik berbentuk barang atau jasa, memasang iklan atau kegiatan ekonomi seperti halnya sebuah pasar. Kenapa hal tersebut terjadi? Karena jangkauan yang dimiliki oleh sosmed sangatlah luas, selama orang tersebut memiliki akses dengan internet, maka dia bisa melakukan kegiatan jual beli.

Beda halnya dengan kita berjualan di pasar tradisional atau modern, maka jangkauan yang dicapai hanya orang-orang yang mengunjungi pasar tersebut. Jadi itulah mengapa sosmed menjadi sangat berpotensi untuk menjadikan sebuah pasar.

Sekali lagi, ini adalah sebuah kemajuan teknologi yang sangat positif, dimana seorang pedagang tidak harus memiliki tempat usaha seperti ruko, kios atau yang lain, hanya cukup memiliki akun disosmed maka dia bisa langsung memasang iklan dan melakukan jual beli pada akun sosmednya tersebut. Dan sudah banyak pelatihan yang berbayar atau gratis yang mengajarkan tentang bagaimana caranya berjualan disosial media.

Akan tetapi timbul permasalahan baru, tidak semua orang suka dengan iklan di sosmed, analogi sederhananya ketika kita menonton tayangan televisi entah itu berupa acara atau film favorit kita. Kita akan merasa sangat terganggu dengan munculnya iklan-iklan yang sering memotong tayangan disaat adegan seru dalam acara atau film yang sedang kita tonton.

komunikasi
Sosmed adalah media untuk bersosialisasi

Hal inilah yang kadang terjadi juga pada sosmed kita, beberapa oknum disosmed, selalu saja membuat kita merasa terganggu dengan postingan iklan-iklan yang begitu sering muncul yang membuat isi dari berita atau status-status disosial media kita hanyalah iklan-iklan saja. Padahal belum tentu kita ingin membuka sosmed kita dengan tujuan untuk mencari iklan.

Seperti tujuan diawal, bahwa sosmed adalah sebuah media digital kita untuk bersosialisasi. Memang boleh-boleh saja seseorang itu beriklan di sosmed, akan tetapi ada teknik yang juga harus dipelajari, bukankah kita memasang iklan disosmed agar ada pengguna sosmed yang tertarik dan suka dengan produk kita lalu membeli?

Bagaimana iklan kita bisa disukai oleh orang lain, ketika orang tersebut malah merasa terganggu dengan postingan-postingan kita yang hanya berupa iklan-iklan dan iklan? Teknik ini yang akan kita pelajari pada artikel ini, kita akan belajar tentang bagaimana membuat sebuah iklan tersebulung yang sama sekali tidak menawarkan, akan tetapi kita mampu membuat orang yang membaca status kita menjadi penasaran. D

Dan inilah yang dinamakan tentang covert selling. Kita tidak akan bahas secara detail tantang CS (Covert Selling), tapi yang kita bahas adalah dasar dari sebuah CS, yang dirangkum dalam  The Hierarchy of Effect Model yang dipopularkan oleh J Lavidge dan Gary A Steiner pada tahun 1961. Menurut mereka ada 3 fase yang dilalui orang banyak orang ketika memutuskan untuk membeli suatu produk.

[ninja_tables id=”1192″]

Seperti kita ketahui pada tabel diatas bahwa “Think” dibagi menjadi 2 aspek lagi yang pertama ada Awareness (Kesadaran) dan Knowledge (pengetahuan), lalu “Feel” dibagi menjadi 2 yaitu Liking (Kesukaan) dan Preference (Pilihan). Dan yang terakhir adalah fase “Do” yang dibagi menjadi 2 juga yaitu Conviction (Keyakinan) dan Purchase (Membeli). Dari 3 fase kemudian menjadi 6 langkah, dan 6 langkah inilah yang akan sama-sama kita pelajari.

Langkah 1, Sosmed Awareness (Kesadaran)

Diatas kita sudah jelaskan bahwa seseorang ketika menggunakan sosmed tujuan utamanya adalah untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-temannya, atau untuk mengetahui sebuah informasi yang menurut mereka sangat penting untuk mereka ketahui. Rasa ingin tahu yang tinggi atau bisa dibilang penasaran adalah kunci suskesnya sebuah iklan, dimana unsur didalamnya tidak sama sekali menawarkan, sehingga tidak mengganggu orang lain dalam membacanya.

Untuk membuat seseorang tertarik dengan postingan kita, maka kita harus banyak berlatih merangkai kata-kata yang mampu membuat seseorang tertarik dan menjadi penasaran sebenarnya aktifitas apa yang sedang kita kerjakan?. Dari rasa penasaran akan timbul kesadaran dengan status kita dan dia juga akan mencari tahu maksud dari postingan kita.

Langkah 2, Knowledge (Pengetahuan)

Setelah dia menyadari tentang keberadaan produk kita, maka hal yang dilakukan si calon pembeli adalah dia akan mencari tahu tentang produk kita agar mudah dimengerti. Biasanya jika kita menjual produk kecantikan, maka akan timbul pertanyaan “sudah ada BPOMnya atau belum?” atau “aman atau tidak?”. Jika kita menjual baju atau kaos, maka akan timbul pertanyaan-pertanyaan “Bahannya apa ya kak?” atau “Kalo dicuci luntur gak?”. Hal inilah yang disebut dengan rasa ingin tahu seorang calon pembeli. Di kedua langkah inilah yang harus benar-benar dipelajari, dipraktekan, dan diulang-ulang oleh penjual, agar terbiasa dalam melakukan CS.

Karena untuk dapat merangkai kalimat yang membuat seseorang tertarik tidaklah mudah, dibutuhkan pengalaman dan pengetahuan serta jam terbang yang sering untuk dapat menguasainya. Pada tahap ini, juga kita perlu mengedukasi kepada calon pembeli kita tentang produk kita. Dengan cara apapun dengan tujuan agar calon pembeli mengetahui seluk beluk dari produk yang sedang kita jual.

Langkah 3, Liking (Menyukai)

Setelah dua langkah diatas sudah mampu membuat calon pembeli bertanya, maka langkah berikutnya atau fase berikutnya adalah menyukai produk kita. Setelah mereka menyadari bahwa produk yang kita jual memiliki kualitas yang bagus dan unggul, maka akan muncul getaran perasaan tertentu, dimana calon pembeli mulai senang dengan produk yang ditawarkan kepadanya.

Tentunya hal tersebut tidak lepas dari cara pelayanan kita yang tulus ikhlas, tidak ada keterpaksaan dalam melayani , sesibuk apapun kita pada saat itu. Maka inilah resiko bagaimana kita akan diuji dengan diri sendiri tentang sejauh mana keikhlasan dan ketulusan kita dalam melayani, sehingga membuat calon pembeli menjadi suka dengan produk dan pelayanan kita.

Langkah 4, Preference (Pilihan)

Ada timbul pertanyaan, apakah ketika kita calon pembeli yang sudah menyukai produk kita lantas langsung memilih? Jawabannya belum tentu, calon pembeli akan mencari refreseni-refresensi produk sejenis ditempat lain. Mereka mungkin akan mencari informasi-informasi ditempat lain sebagai perbandingan dengan produk yang kita jual. Jadi yang perlu kita lakukan pada tahap ini adalah bagaimana kita mampu memberikan fasilitas yang lebih, yang membuat si calon pembeli tadi memilih kita. Misalnya kita menjual produk yang sama dengan harga yang sama, lalu kita harus memberikan sesuatu hal yang berbeda dalam segi pelayanan, diskon ongkir, bisa COD bayar ditempat, atau bonus-bonus lainnya yang mampu membuat calon pembeli kita memilih kita walau diluar sana banyak produk yang sejenis.

Langkah 5, Conviction (Keyakinan)

kepercayaan
Keyakinan itu mahal

Setelah kita terus menerus melakukan edukasi kepada calon pembeli, dan kita juga sudah melakukan metode dan pelayanan yang maksimal, maka langkah berikutnya adalah keyakinan calon pembeli terhadap produk kita, pada tahap ini, calon pembeli sudah sangat yakin dengan produk kita, dan menyakini bahwa produk tersebut wajib saya beli karena dia sangat membutuhkan produk tersebut.

Tapi apakah ketika sudah pada sampai tahap ini pembeli akan langsung menghubungi sosmed kita lalu membeli produk kita? belum tentu, bisa jadi mereka menahan diri dulu. Bisa jadi masih ada keraguan, “ini penjualnya jujur gak ya?”. dan mereka tentu akan mengamati dan mencari tentang kita di sosmed kita.

Oleh karena itu, perlu untuk diperhatikan bahwa seseorang harus memili personal branding yang bagus di sosmed, agar dapat dipercaya oleh calon pembeli kita. Jadi mulai sekarang, mulai bijak dalam menggunakan sosmed. Karena tidak semua berita yang tersebar di sosmed itu benar. Mulai hentikan status-status “alay” yang merusak personal branding kita, ganti membagikan info-info yang bermanfaat dengan sumber yang jelas.

Langkah 6, Purchase (Membeli)

Pertanyaan kembali timbul, apakah ketika seseorang sudah yakin, apakah akan langsung membeli produk kita? belum tentu, bisa jadi dia menahannya karena ada faktor, misalnya si calon pembeli adalah seorang istri, dia harus meminta ijin suaminya karena uangnya dipegang oleh suaminya, atau kasus lain, misalnya tunggu akhir bulan ketika gajian, karena dia akan membeli sekaligus banyak atau ada kebutuhan yang lebih mendesak. Dalam menyikapi hal tersebut kita tidak boleh berputus asa, mungkin sesekali bisa ingatkan “mohon maaf kak, sudah ditransfer belum ya?”.

Cukup sekali saja dan tunggu responnya, tidak perlu berkali-kali sampai membuat calon pembeli merasa terganggu dengan pertanyaan tersebut. Jika hal tersebut sudah dilakukan, namun masih melesat. Maka dia bukanlah jodoh kita. Evaluasi lagi tahap demi tahap, jangan jadi baper, karena yang harusnya baper adalah pembeli bukan penjual.

Sekiranya 6 langkah diatas dapat dipraktekan semua dan dimaksimalkan semua dengan sungguh-sungguh, untuk para penjual maka yang harus benar-benar diperhatikan adalah fase “THINK”. Karena apapun yang dipikirkan itulah yang akan dirasakan. Sehingga kita hanya perlu ‘bermain-main’ dengan pikiran, maka secara tidak langsung perasaan akan mengikutinya dan seterusnya. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah dan ilmu sedikit, kita semua berharap agar ikhtiar yang kita sama-sama lakukan dapat membuahkan hasil yang maksimal dan menambahkan keberkahan. Amiiinn..

 

Penulis : Dony Setiawan
Sumber Inspirasi : Mantra Covert Selling (Ki Jendral Nasution)