3 KONSEP RIZKI DALAM ISLAM

Berbagai Aktifitas manusia

Mari kita memahami konsep rizki, dalam kehidupan sehari – hari, kita selalu disibukkan dengan berbagai aktifitas yang kita miliki masing-masing. Berbagai aktifitas dengan frekuensi yang berulang-ulang akan menjadi sebuah rutinitas. Dan rutinitas yang kita lakukan ada yang menjadi sebuah profesi. Dari semua aktifitas yang kita lakukan pasti masing-masing memiliki tujuan. Bisa dikatakan mustahil seseorang dalam melakukan sesuatu tanpa memiliki tujuan. Tujuan aktifitas tersebut tentu didasari beberapa faktor seperti faktor ekonomi, faktor sosial, dan lain-lain. Beberapa aktifitas yang menjadi profesi biasanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, dimana seseorang harus mencari tiga aspek yang sudah sangat familiar yaitu sandang, pangan, papan. Mengapa tiga aspek ini menjadi dasar dari aktifitas yang harus kita lakukan? Karena ini merupakan kebutuhan manusia dalam rangka mempertahankan hidupnya.

Dalam hal ini saya tidak akan membahas secara detail tentang tiga aspek tersebut, yang akan kita bahas adalah nama lain dari tiga aspek tersebut yang kita sebut dengan rizki. Mungkin banyak diantara kita yang tidak mengetahui tentang definisi rizki atau mungkin sudah mengetahui akan tetapi pemahaman tentang rizki yang kurang tepat. Lalu apa itu rizki? Rizki adalah Semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba. Kita sadar bahwa kita ini adalah seorang hamba Alloh Subhanahu wa ta’ala dimana seorang hamba haruslah patuh, tunduk dan takut kepada Tuhannya.

Jadi bisa katakan bahwa rizki tersebut adalah semua kebaikan yang dan kemudahan yang diberikan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala yang dinikmati oleh seorang hambanya. Ingat ada kata dinikmati, jika ada pemberian Alloh yang kita tidak nikmati, bisa jadi kita tidak bersyukur atau kita tidak mengetahui bagaimana cara menikmatinya. Agar kita dapat menikmati segala bentuk pemberian Alloh Subhanahu wa ta’ala maka kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang konsep rizki dalam islam. setidaknya kita harus mengetahui 3 konsep rizki menurut islam.

Konsep pertama, Semua makhluk yang Alloh Subhanahu wa ta’ala ciptakan telah dijamin rizkinya

Konsep ini menjadi konsep yang pertama sekaligus menjadi dasar dari konsep rizki dalam islam, bahwa semua makhluk hidup yang Alloh Subhanahu wa ta’ala diciptakan dimuka bumi Alloh baik yang berakal maupun yang tidak berakal akan Alloh jamin rizkinya. Berikut beberapa dalil yang berkaitan dengan hal tersebut :

۞وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ 

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”. (Qs. Hud:6)

Konsep ini menjelaskan kepada kita bahwa setiap anggota keluarga yang kita miliki saat ini semua sudah Alloh Subhanahu wa ta’ala jamin rizkinya. Dan hakekatnya yang memberi rizki adalah Alloh bukan kepala keluarga. Kepala keluarga hanyalah peratara dari rizki yang telah diberikan kepada Alloh untuk masing-masing anggota keluarga kita.  Namun dari prinsip ini bukan berarti kita berpangku tangan dan berdiam diri tidak bekerja dengan beranggapan semua telah ditaqdirkan. Memang benar rizki sudah ditaqdirkan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala, akan tetapi taqdir Alloh merupakan rahasia Alloh yang tidak diketahui. Sementara sesuatu yang tidak diketahui tidak boleh dijadikan alasan.

Lebah yang telah Alloh jamin rizkinya

Jaminan dari Alloh tersebut tidak serta merta menjadikan kita menghilangkan ikhtiar dan tawakal kita, karena jika hal tersebut dilakukan maka kita termasuk kedalam golongan yang mengingkari hikmah dari Alloh Subhanahu wa ta’ala. Kesimpulannya adalah ketika makhluk menginginkan sesuatu, maka dia harus mengupayakan sebabnya. Usaha adalah sebab, sedangkan mendapatkan harta adalah akibatnya.

Konsep kedua, Setiap jiwa tidak akan mati sampai habis jatah rizkinya.

Rasulullah ﷺ bersabda :

“Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rizkinya, karena itu, jangan kalian merasa rizki kalian terhambat dan bertawakalah kepada Alloh, wahai sekalian manusia. Carilah rizki dengan baik, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan Al-Kubro 9640 dishahihkan Hkim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)

Prinsip ini memberikan penjelasan kepada kita,

1. Siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Alloh sampai dia mati

Seperti dalil dari Al-qur’an Qs.Hud : 6 bahwa Alloh Subhanahu wa ta’ala menciptakan makhluk sekalipun itu hewan melata, maka Alloh akan jamin rizkinya. Ini merupakan jaminan yang Alloh berikan kepada makhluk ciptaannya.

2. Semiskin apapun manusia, dia tidak akan mati sampai jatah rizkinya habis.

Hal ini haruslah membuat kita jangan bersikap putus asa dalam mencari rizki, bahwa terkadang rizki yang belum Alloh kasih ke kita karena mungkin upaya yang kita tempuh belum maksimal atau niat kita yang salah dalam mencarinya. Oleh karena itu, jangan takut jika rizki itu habis selama kita masih hidup.

3. Sebanyak apapun penghasilan manusia, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya

Terkadang banyak diantara kita terlalu berambisi dalam mengejar dunia sampai lupa terhadap kewajibannya sebagai seorang hamba, malalaikan dari kewajibannya terhadap Rabb-nya. Padahal sebanyak apapun harta atau rizki yang kita cari, tidak akan mungkin melampaui jatah rizki yang sudah Alloh catatkan.

4. Rizki para hamba tidak akan pernah tertukar.

Persaingan yang membuat seseorang gelap mata, menghalalkan segala cara agar memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya, dan beberapa beralasan bahwa khawatir rizkinya tertukar. Padahal itu adalah prinsip yang salah, dzolim terhadap orang lain bisa menghambat rizki kita. Karena dzolim berarti memutus tali silahturahim, yang tentunya akan memutus dari rizki kita. Jadi tidak perlu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rizki, cukup kita berusaha dengan sekuat tenaga dan berdoa kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

konsep hidup menentukan kesuksesan
konsep hidup menentukan kesuksesan

Namun disamping tentang keempat prinsip diatas, kita juga harus mampu membedakan antara gaya hidup dengan pola hidup. Harta seberapapun akan cukup untuk hidup. Akan tetapi, harta sebanyak apapun tidak akan mencukupi untuk menutupi gaya hidup. Ini adalah sebuah prinsip yang benar-benar harus kita terapkan dalam kehidupan kita, agar kita memahami betul tentang konsep-konsep rizki tersebut.

Konsep ketiga, Hakekat Rizki

Setelah kita memahami tentang dua konsep diatas, maka konsep yang ketiga ini merupakan pengetahuan tentang hakikat dari rizki tersebut agar kita semakin mantap dalam berusaha mencari tanpa mengabaikan hal-hal yang dilarang dalam islam. Hakikat rizki ada 2 macam yaitu :

A. Hakikat Kauni

Secara arti hakikat kauni adalah apa yang ditaqdirkan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala untuk menjadi rizki kita di dunia. Dan hakikat itu adalah apa yang kita konsumsi, yang kita gunakan, atau apapun yang kita melayani diri kita. Sementara apa yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rizki kita. Seperti contohnya seberapa banyak uang yang kita miliki saat ini belum tentu kita memanfaatkan semuanya, bisa jadi orang lain yang memanfaatkannya.

Jadi pada intinya adalah semua rizki yang kita terima, belum tentu menjadi milik kita sepenuhnya karena rizki secara kauni hanya berlandas tiga aspek yang telah dijelaskan diatas yaitu yang kita konsumsi, yang kita gunakan dan yang melayani kebutuhan kita, selebihnya hanya titipan yang masih rahasia, apakah menjadi rizki kita atau tidak.

B. Hakikat Syar’i

Hakikat rizki secara syar’i artinya pemberian dari Alloh yang bisa mendatangkan manfaat di akhirat bagi kita. Dengan kata lain, semua harta yang digunakan dalam rangka ketaatan kepada Alloh agar kita memperoleh pahala. Karena itu semua modal yang kita keluarkan dalam rangka untuk menjalankan ketaatan kepada Alloh Subahanahu wa ta’ala itulah rizki kita yang sebenarnya.

Rizki yang yang tidak akan pernah habis

Sudah selayaknya bagi kita sebagai seorang hamba yang diberikan rizki oleh Alloh subhanahu wa ta’ala agar dapat berbagi dengan saudara-saudara yang mungkin rizkinya diberikan melalui perantara kita. Tidak akan hilang harta yang diinfaqkan dijalan Alloh. Dan hakikat rizki syar’iyah-lah yang harus kita perbanyak, sedangkan untuk kauniyah maka itu akan habis setelah kita konsumsi, gunakan, atau untuk melayani kita.

Semoga Alloh memberikan kita semua rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka karena ikhtiar, tawakal, dan do’a yang ikhlas serta sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ ajarkan melalui hadits-haditsnya yang shahih. Semoga tulisan ini senantiasa bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Semoga Alloh memudahkan langkah kita dalam berhijrah. Mohon maaf apabila dalam penulisan artikel ini banyak sekali kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan yang bersumber dari keilmuan yang dimiliki penulis.

Sumber Refrensi : Buku Kode Etik Pengusaha Muslim Karya Ustadz Ammi Nur Baits.